Jumat, 29 Juli 2022

Singgahmu meruntuhkan rumahku

 


Puluhan riuh tak lagi bergeming utuh

Hiruk-pikuknya merendah pulang dan terjatuh

Suasana berganti sunyi dan sepi

Meninggalkan angan yang dipaksa terbang sendiri

 

Kisah abu-abu itu telah selesai

Melarakan anak manusia yang perlahan meruai

Bertahan dari badai yang paling kencang

Rupanya tidak menjamin hubungan yang kekal

 

Sampai kini aku hanya berusaha merelakan

Bersujud agar waktu segera memutar

Bukan kembali ke fase awal

Tapi untuk segera bisa mengikhlaskan

 

Dalam sujud itu

Ada tangis yang tak berkesudahan

Ada luka yang merindu bahagia

Juga ada jiwa yang sedang patah-patahnya

 

Dikira renungan malam

Dapat merubah fajar yang ditelan awan

Tapi nyatanya pagi ini masih nuntut kekecewaan

Yang menjadikan siang hanya bergelut kekalahan

 

Saat kamu hentikan kisahnya

Jujur sakit

Jujur kecewa sama hati sendiri

Kenapa harus naruh rasa sedalam ini kepada manusia

 

Dan satu yang harus kamu tau

Kalau cerita kamu, masih menjadi halaman yang paling buruk

Yang menjadi satu-satunya kisah paling salah

Kisah paling patah juga membuat kecewaku merekah

 

Selamat ya singgahnya berhasil meruntuhkan rumahku

Rumah yang aku bangun dengan kemonokroman

Rumahku memang tidak indah

Ia hanya terhias hitam dan putih

Tapi rumahku

Adalah tempat teduh paling tenang

Tapi rumahku

Sekarang runtuh

Dan hanya sisa lukisan abu-abu.

 

Pangandaran,22


😔

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AZKA DAN KARTUN KESAYANGANNYA

Mentari mengeringkan embun yang tinggal disetiap daun.   Sinarnya, perlahan membukakan mata sipit Azka; anak lelaki berusia 5 tahun yang sud...