Kamis, 07 Agustus 2025

AZKA DAN KARTUN KESAYANGANNYA

Mentari mengeringkan embun yang tinggal disetiap daun.  Sinarnya, perlahan membukakan mata sipit Azka; anak lelaki berusia 5 tahun yang sudah terbiasa bangun pagi.

“Uma!” Panggil Azka.

“Uma di dapur, sayang,” balas abinya yang asyik meminum secangkir teh hangat di depan televisi.

Azka bergegas menghampiri Ibunya, sedang Amat yang merupakan ayah Azra, menjawab telepon yang masuk.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun,” ucap Amat membalas telepon.

Azka dan Suar yang merupakan ibu Azka, berlari kepanikan. “Abi, siapa yang meninggal?” Azka menarik-narik baju Abinya.

Dengan tergesa-gesa, Amat menutup telepon. Lalu, menekukkan tubuh agar setara dengan Azka. “Nak, enggak ada yang meninggal. Tadi, istri dari karyawan Abi meminta izin karena suaminya tidak dapat bekerja.”

“ta-tapi, kenapa Abi mengucapkan Innalillahi?” tanya Azra. Rupanya pandangan Azra terhadap kalimat tersebut hanya merujuk pada orang yang meninggal.

“Aaa, abi tahu maksud kamu.” Amat menggendong Azra, mendudukannya pada pangkal paha.

“Kalimat Innalillahi tidak selalu di ucapkan ketika kita mendengar berita orang meninggal. Tetapi, juga diucapkan ketika kita mendengar orang yang terkena musibah,” jelas Amat dengan sangat lembut dan pelan.

“Apa yang terjadi, Bi?” tanya Suar.

Amat menatap Suar. “Santoso kecelakaan, sepertinya kita harus meluangkan waktu untuk menjenguk dia.”

Amat dan Suar, memutuskan untuk tidak membawa Azka. Selain jarak rumahnya yang jauh, Amat dan Suar takut jika Azka akan terkena sakit karena cuaca yang tidak menentu. Dengan berat hati, mereka menitipkan Azka kepada Tiar yang merupakan adik dari Amat.

“Dek, Mas titip Azka, ya,” tutur Amat sembari mengantarkan Azka masuk ke dalam rumah Tiar. Mereka di sambut ramah oleh Tiar dan beberapa anak yang sudah menongkrong di kursi empuk milik Tiar.

Tiar memang suka anak-anak. Jadi, ketika ia libur kuliah biasanya rumahnya dijadikan tempat penampungan anak dari tetangga-tetangganya.

“Azka, Uma dan Abi pamit, ya. Jangan nakal!” pesan Suar.

“Siap, Uma.” Azka menyalami Uma dan Abinya. Setelah itu, bergabung dengan kumpulan anak sepantarannya.

Azka, bermain riang bersama mereka. Dari mulai aneka mobil-mobilan sampai aneka boneka, semuanya tercampur aduk di ruang bercat biru milik Tiar. Bebera jam kemudian, Tiar membawa Bakpau. Jumlahnya sama, dengan jumlah anak-anak yang sedang berada dirumahnya, 7 Bakpau untuk 7 anak. Namun, tidak tahu Bakpaunya yang terlalu enak, atau anak perempuan bernama Sela yang mempunyai sifat rakus. Sela mengambil 2 buah Bakpau, alhasil satu orang dari mereka tidak kebagian.

Dito yang merupakan anak paling dewasa diantara mereka, menegur Sela. “Itu bukan milikkmu, kenapa kamu ambil?” ucapnya lantang.

“Ini punyaku, aku yang duluan memegangnya,” bantah Sela dengan suara takutnya.

“sudah, Tante masih punya banyak Bakpau. Kau bebas mau ambil berapa pun.” Tiar mencoba mendamaikan mereka.

“Tante, tapi kata Abi jangan rakus-rakus. Orang yang rakus, temannya setan,” ucap Azka sepontan.

Tiba-tiba anak kecil berkucir dua menyahut, “aku engga mau berteman sama setan. Kata Kakak, setan bentuknya seperti monster.”

Selang beberapa detik, Sela memberikan Bakpau tersebut kepada Zayin; anak kecil yang haknya diambil Sela. Sela menampakkan wajah ketakutan, ucapan teman-temannya telah mengubah pemikiran Sela menjadi lebih baik. Suasana kembali tentram.

Ibu-ibu yang telah selesai dengan tugas rumahnya, ikut membaur dengan anak-anak yang mereka titipkan di rumah Tiar. Rumah Tiar, menyatu dengan warung. Jadi, ibu-ibu tersebut dapat bersantai ria di sana.

“Yey, Ibu sudah datang.” Dengan gembira Sela menghampiri ibunya.

“Ibu, aku mau makan!” Pinta Zayin yang melihat ibunya membawa bekal.

Sudah menjadi kebiasaan untuk mereka makan siang bersama. Azka juga sudah di persiapkan bekal, walau umanya jarang berkumpul. Namun, ia mengetahui adat yang biasa dilakukan masyarakat di kampung suaminya tersebut.

Azka ditemani Tiar bergabung dengan anak-anak lain.

Melihat anak-anak lain di suapi oleh ibunya, Tiar berinisiatif untuk menyuapi Azka. “Kamu mau Tante suapin?” tanya Tiar terlebih dahulu.

Azka menggelengkan kepala, satu suapan nasi telah menutup mulutnya untuk berbicara. Tak seperti kebanyakan anak-anak sepermainannya yang makan sambil loncat-locat dan saling berkluyuran meninggalkan piring makan, Azka malah duduk santai dan mengunyah begitu tenang. Ibu-ibu yang melihat tingkah laku Azka, memujinya.

“Anak Pak Amat pinter banget, ya? Udah bisa makan sendiri, gak belepotan lagi.” Ibu Sela menatap kagum Azka.

“Iya, beda banget sama si Zayin. Kalau mau makan mesti di beri hadiah dulu,” sahut ibu Zayin yang sibuk mengumpulkan nasi di kotak bekal.

“Gak papa, Bu. Menurut teori yang aku pelajari, setiap anak memiliki pertumbuhan yang berbeda,” Tiar menyahut.

“Iya si. Tapi, andai saja anak kami seperti Azka. Yang mudah menerima segala bentuk nasihat dan pepatah,” ucap seorang ibu dari anak yang berkucir 2, ia mengelus lembut kepala Azka.

“Apa si yang orang tuamu ajarkan?” tanyanya kemudian. Ia tidak mengharap jawaban, karena pertanyaan tersebut mengacu pada penjelasan rinci yang dijawab oleh usia yang jauh lebih tua dari Azka.

Namun, Azka ternyata mampu menjawabnya. “Umaku, selalu mengajakku nonton kartun,”

“Ibuku bilang, jangan melihat kartun. Nanti, matamu akan rabun,” sahut anak kecil yang dikucir dua. Sepertinya, ia selalu ditakut-takuti ketika keinginannya tidak dapat dituruti.

“Tapi, aku dan Uma nontonnya dari jauh kok,” jelas Azka.

“Memangnya apa yang kamu lihat?” tanya Tiar.

“Nusa dan Rara,” jawab Azka, sembari menyimpan sendok pada wadah bekel yang sudah kehilangan isinya.

“Kartun apa itu?” tanya ibu Zayin kepada ibu-ibu lain.

“Nusa dan Rara itu, kartun kesayangann aku. Kata Nusa dan Rara, kita gak boleh makan sambil berdiri, gak boleh minum dengan tangan kiri, dan gak boleh meniup makanan yang panas,” jelas Azka tanpa cela.

“Aku juga hafal lagunya,” ucap Azka kemudian.

“Coba nyanyiin,” pinta Tiar.

Azka bernyanyi penuh semangat, anak-anak lain mendengarkan Azka saksama.

“Lagunya sangat bagus, menarik untuk anak-anak, dan di dalamnya juga menyimpan teladan,” ibu Sela menyela. Dan di setujui dengan ibu-ibu yang lainnya.

Kemudian, mereka berinisiatif untuk melihat Nusa dan Rara. Mereka tertarik dengan skema drama dalam kartun tersebut. Di dalamnya, banyak mengajarkan sunah-sunah rasul, serta dimuat dalam bentuk yang kreatif dan menarik. Sehingga anak-anak akan mudah terinspirasi untuk mengingat sebuah nasihat yang terkandung dari pesan video tersebut.

Anak-anak yang tadinya makan sambil kluyuran, kini duduk tenang melihat Nusa dan Rara yang begitu menggemaskan. Mereka menyukai kartun tersebut.

“Tante, aku mengantuk,” adu Azka kepada Tiar.

“Oh iya, sudah pukul 11 ya. Waktunya tidur siang,” Tiar berusaha mengingat kebiasaan Azka yang dijelaskan oleh Amat sebelum pergi.

“Yaudah, sekarang kamu tidur, ya!” Tiar menghantarkan Azka ke kamarnya. Kamar Tiar, selalu menjadi kamar Favorit Azka, apalagi kini penuh dengan boneka beruang yang sangat menggemaskan.

***

 


 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AZKA DAN KARTUN KESAYANGANNYA

Mentari mengeringkan embun yang tinggal disetiap daun.   Sinarnya, perlahan membukakan mata sipit Azka; anak lelaki berusia 5 tahun yang sud...