Puluhan riuh tak lagi bergeming utuh
Hiruk-pikuknya merendah pulang dan
terjatuh
Suasana berganti sunyi dan sepi
Meninggalkan angan yang dipaksa terbang
sendiri
Kisah abu-abu itu telah selesai
Melarakan anak manusia yang perlahan
meruai
Bertahan dari badai yang paling kencang
Rupanya tidak menjamin hubungan yang
kekal
Sampai kini aku hanya berusaha merelakan
Bersujud agar waktu segera memutar
Bukan kembali ke fase awal
Tapi untuk segera bisa mengikhlaskan
Dalam sujud itu
Ada tangis yang tak berkesudahan
Ada luka yang merindu bahagia
Juga ada jiwa yang sedang patah-patahnya
Dikira renungan malam
Dapat merubah fajar yang ditelan awan
Tapi nyatanya pagi ini masih nuntut
kekecewaan
Yang menjadikan siang hanya bergelut
kekalahan
Saat kamu hentikan kisahnya
Jujur sakit
Jujur kecewa sama hati sendiri
Kenapa harus naruh rasa sedalam ini
kepada manusia
Dan satu yang harus kamu tau
Kalau cerita kamu, masih menjadi halaman
yang paling buruk
Yang menjadi satu-satunya kisah paling
salah
Kisah paling patah juga membuat kecewaku
merekah
Selamat ya singgahnya berhasil meruntuhkan
rumahku
Rumah yang aku bangun dengan kemonokroman
Rumahku memang tidak indah
Ia hanya terhias hitam dan putih
Tapi rumahku
Adalah tempat teduh paling tenang
Tapi rumahku
Sekarang runtuh
Dan hanya sisa lukisan abu-abu.
Pangandaran,22
😔
