Mentari mengeringkan embun yang tinggal disetiap daun. Sinarnya, perlahan membukakan mata sipit Azka; anak lelaki berusia 5 tahun yang sudah terbiasa bangun pagi.
“Uma!”
Panggil Azka.
“Uma
di dapur, sayang,” balas abinya yang asyik meminum secangkir teh hangat di
depan televisi.
Azka
bergegas menghampiri Ibunya, sedang Amat yang merupakan ayah Azra, menjawab
telepon yang masuk.
“Innalillahi
wa innailaihi rojiun,” ucap Amat membalas telepon.
Azka
dan Suar yang merupakan ibu Azka, berlari kepanikan. “Abi, siapa yang
meninggal?” Azka menarik-narik baju Abinya.
Dengan
tergesa-gesa, Amat menutup telepon. Lalu, menekukkan tubuh agar setara dengan
Azka. “Nak, enggak ada yang meninggal. Tadi, istri dari karyawan Abi meminta
izin karena suaminya tidak dapat bekerja.”
“ta-tapi,
kenapa Abi mengucapkan Innalillahi?” tanya Azra. Rupanya pandangan Azra
terhadap kalimat tersebut hanya merujuk pada orang yang meninggal.
“Aaa,
abi tahu maksud kamu.” Amat menggendong Azra, mendudukannya pada pangkal paha.
“Kalimat
Innalillahi tidak selalu di ucapkan ketika kita mendengar berita orang
meninggal. Tetapi, juga diucapkan ketika kita mendengar orang yang terkena
musibah,” jelas Amat dengan sangat lembut dan pelan.
“Apa
yang terjadi, Bi?” tanya Suar.
Amat
menatap Suar. “Santoso kecelakaan, sepertinya kita harus meluangkan waktu untuk
menjenguk dia.”
Amat
dan Suar, memutuskan untuk tidak membawa Azka. Selain jarak rumahnya yang jauh,
Amat dan Suar takut jika Azka akan terkena sakit karena cuaca yang tidak
menentu. Dengan berat hati, mereka menitipkan Azka kepada Tiar yang merupakan
adik dari Amat.
“Dek,
Mas titip Azka, ya,” tutur Amat sembari mengantarkan Azka masuk ke dalam rumah
Tiar. Mereka di sambut ramah oleh Tiar dan beberapa anak yang sudah menongkrong
di kursi empuk milik Tiar.
Tiar
memang suka anak-anak. Jadi, ketika ia libur kuliah biasanya rumahnya dijadikan
tempat penampungan anak dari tetangga-tetangganya.
“Azka,
Uma dan Abi pamit, ya. Jangan nakal!” pesan Suar.
“Siap,
Uma.” Azka menyalami Uma dan Abinya. Setelah itu, bergabung dengan kumpulan
anak sepantarannya.
Azka,
bermain riang bersama mereka. Dari mulai aneka mobil-mobilan sampai aneka
boneka, semuanya tercampur aduk di ruang bercat biru milik Tiar. Bebera jam
kemudian, Tiar membawa Bakpau. Jumlahnya sama, dengan jumlah anak-anak yang
sedang berada dirumahnya, 7 Bakpau untuk 7 anak. Namun, tidak tahu Bakpaunya
yang terlalu enak, atau anak perempuan bernama Sela yang mempunyai sifat rakus.
Sela mengambil 2 buah Bakpau, alhasil satu orang dari mereka tidak kebagian.
Dito
yang merupakan anak paling dewasa diantara mereka, menegur Sela. “Itu bukan
milikkmu, kenapa kamu ambil?” ucapnya lantang.
“Ini
punyaku, aku yang duluan memegangnya,” bantah Sela dengan suara takutnya.
“sudah,
Tante masih punya banyak Bakpau. Kau bebas mau ambil berapa pun.” Tiar mencoba
mendamaikan mereka.
“Tante,
tapi kata Abi jangan rakus-rakus. Orang yang rakus, temannya setan,” ucap Azka
sepontan.
Tiba-tiba
anak kecil berkucir dua menyahut, “aku engga mau berteman sama setan. Kata
Kakak, setan bentuknya seperti monster.”
Selang
beberapa detik, Sela memberikan Bakpau tersebut kepada Zayin; anak kecil yang
haknya diambil Sela. Sela menampakkan wajah ketakutan, ucapan teman-temannya
telah mengubah pemikiran Sela menjadi lebih baik. Suasana kembali tentram.
Ibu-ibu
yang telah selesai dengan tugas rumahnya, ikut membaur dengan anak-anak yang mereka
titipkan di rumah Tiar. Rumah Tiar, menyatu dengan warung. Jadi, ibu-ibu
tersebut dapat bersantai ria di sana.
“Yey,
Ibu sudah datang.” Dengan gembira Sela menghampiri ibunya.
“Ibu,
aku mau makan!” Pinta Zayin yang melihat ibunya membawa bekal.
Sudah
menjadi kebiasaan untuk mereka makan siang bersama. Azka juga sudah di
persiapkan bekal, walau umanya jarang berkumpul. Namun, ia mengetahui adat yang
biasa dilakukan masyarakat di kampung suaminya tersebut.
Azka
ditemani Tiar bergabung dengan anak-anak lain.
Melihat
anak-anak lain di suapi oleh ibunya, Tiar berinisiatif untuk menyuapi Azka.
“Kamu mau Tante suapin?” tanya Tiar terlebih dahulu.
Azka
menggelengkan kepala, satu suapan nasi telah menutup mulutnya untuk berbicara. Tak
seperti kebanyakan anak-anak sepermainannya yang makan sambil loncat-locat dan
saling berkluyuran meninggalkan piring makan, Azka malah duduk santai dan
mengunyah begitu tenang. Ibu-ibu yang melihat tingkah laku Azka, memujinya.
“Anak
Pak Amat pinter banget, ya? Udah bisa makan sendiri, gak belepotan lagi.” Ibu
Sela menatap kagum Azka.
“Iya,
beda banget sama si Zayin. Kalau mau makan mesti di beri hadiah dulu,” sahut
ibu Zayin yang sibuk mengumpulkan nasi di kotak bekal.
“Gak
papa, Bu. Menurut teori yang aku pelajari, setiap anak memiliki pertumbuhan
yang berbeda,” Tiar menyahut.
“Iya
si. Tapi, andai saja anak kami seperti Azka. Yang mudah menerima segala bentuk
nasihat dan pepatah,” ucap seorang ibu dari anak yang berkucir 2, ia mengelus
lembut kepala Azka.
“Apa
si yang orang tuamu ajarkan?” tanyanya kemudian. Ia tidak mengharap jawaban,
karena pertanyaan tersebut mengacu pada penjelasan rinci yang dijawab oleh usia
yang jauh lebih tua dari Azka.
Namun,
Azka ternyata mampu menjawabnya. “Umaku, selalu mengajakku nonton kartun,”
“Ibuku
bilang, jangan melihat kartun. Nanti, matamu akan rabun,” sahut anak kecil yang
dikucir dua. Sepertinya, ia selalu ditakut-takuti ketika keinginannya tidak
dapat dituruti.
“Tapi,
aku dan Uma nontonnya dari jauh kok,” jelas Azka.
“Memangnya
apa yang kamu lihat?” tanya Tiar.
“Nusa
dan Rara,” jawab Azka, sembari menyimpan sendok pada wadah bekel yang sudah
kehilangan isinya.
“Kartun
apa itu?” tanya ibu Zayin kepada ibu-ibu lain.
“Nusa
dan Rara itu, kartun kesayangann aku. Kata Nusa dan Rara, kita gak boleh makan
sambil berdiri, gak boleh minum dengan tangan kiri, dan gak boleh meniup
makanan yang panas,” jelas Azka tanpa cela.
“Aku
juga hafal lagunya,” ucap Azka kemudian.
“Coba
nyanyiin,” pinta Tiar.
Azka
bernyanyi penuh semangat, anak-anak lain mendengarkan Azka saksama.
“Lagunya
sangat bagus, menarik untuk anak-anak, dan di dalamnya juga menyimpan teladan,”
ibu Sela menyela. Dan di setujui dengan ibu-ibu yang lainnya.
Kemudian,
mereka berinisiatif untuk melihat Nusa dan Rara. Mereka tertarik dengan skema
drama dalam kartun tersebut. Di dalamnya, banyak mengajarkan sunah-sunah rasul,
serta dimuat dalam bentuk yang kreatif dan menarik. Sehingga anak-anak akan
mudah terinspirasi untuk mengingat sebuah nasihat yang terkandung dari pesan
video tersebut.
Anak-anak
yang tadinya makan sambil kluyuran, kini duduk tenang melihat Nusa dan Rara
yang begitu menggemaskan. Mereka menyukai kartun tersebut.
“Tante,
aku mengantuk,” adu Azka kepada Tiar.
“Oh
iya, sudah pukul 11 ya. Waktunya tidur siang,” Tiar berusaha mengingat
kebiasaan Azka yang dijelaskan oleh Amat sebelum pergi.
“Yaudah,
sekarang kamu tidur, ya!” Tiar menghantarkan Azka ke kamarnya. Kamar Tiar,
selalu menjadi kamar Favorit Azka, apalagi kini penuh dengan boneka beruang
yang sangat menggemaskan.
***
